Just another WordPress.com site

Pada tanggal 10 Mei 1775, dimulai kongres kontinental  II yang merupakan tindak lanjut dari rencana yang telah dibuat pada kongres kontinental I. Pada waktu kongres kontinental I berakhir, kongres memutuskan untuk mengadakan sidang kembali jika tuntutan keberatan yang diajukan oleh koloni Amerika tidak ditanggapi oleh pemerintah Inggris. Meskipun awalnya para wakil koloni menyangsikan akan dilangsungkannya kembali kongres lanjutan, tapi ternyata keadaan yang berkembang di tanah koloni mendorong untuk direalisasikannya kongres kontinental II yang dilaksanakan di Philadelpia.
Dalam kongres yang ke-2 ini para pemimpin konservatif terkemuka seperti Galloway dan Isaac Low tidak hadir dalam sidang. Keadaan ini membuka jalan bagi golongan radikal untuk tampil di depan sehingga juru bicara dari golongan radikal seperti Benjamin Franklin dan Thomas Jefferson memiliki kesempatan besar menyampaikan rencananya untuk membawa Amerika kepada arah kemerdekaan. Perubahan besar juga terjadi di dalam jajaran pimpinan kongres. John Hancock (Gerald leinwand 1975 hal 64) yang merupakan pendukung golongan radikal dipilih oleh mayoritas anggota kongres yang sebelumnya dijabat oleh Peyton Randolph. Meskipun dominasi anggota kongres didominasi oleh golongan radikal, kongres masih bersifat hati-hati dan tidak terburu-buru dalam membuat keputusan menyikapi peperangan yang telah berlangsung berbulan-bulan dan telah menimbulkan korban yang cukup banyak. Kongres belum juga meninggalkan harapannya untuk kembali menjalin hubungan dengan pemerintah Inggris dibawah sistem baru berupa jaminan-jaminan konstitusional.
Pada tanggal 5 Juli 1775, kongres menerima sebuah usulan perdamaian yang  dikenal dengan Olive Branch Petition. Petisi perdamaian ini disusun oleh John Dickinson yang menjadi pemimpin dari golongan konservatif setelah pengunduran diri yang dilakukan oleh Galloway. Petisi berisikan pernyataan yang menyebutkan bahwa rakyat Amerika masih setia kepada George III dan memohon kepada raja supaya mencegah tindakan-tindakan permusuhan sampai diadakan suatu perdamaian. Meskipun menolak kemerdekaan, dalam petisi ini juga ditekankan bahwa orang-orang Amerika siap mati daripada hidup diperbudak.
Usulan ini disampaikan juga kepada pemerintah Inggris yang diberitakan kepada publik Inggris. Usulan ini mendapatkan kecaman sangat hebat dari golongan radikal. John Adams bahkan mengkritik John Dickinson sebagai pengumpul kekayaan dan pengkhianat perjuangan rakyat Amerika (Richard. B. Morris, op.cit hal 84). Menyikapi keadaan tersebut kongres bertindak cepat dengan menyatakan bahwa negara bagian dalam keadaan perang. Pada tanggal 31 Juli 1775, kongres menolak rencana perdamaian yang diajukan oleh pemerintah Inggris. Kongres mulai berfikir serius untuk mempersiapkan perjuangan kemerdekaan Amerika lewat perjuangan bersenjata.
Pada bulan September kongres mulai bersidang kembali dan untuk pertama kalinya pewakilan dari Georgia hadir dalam kongres. Kehadiran delegasi dari Georgia ini merupakan peristiwa pertama kalinya dimana 13 negara koloni terwakili dalam kongres federal. Dalam pertemuan kali ini dihasilkan 2 keputusan yaitu: pertama, tentang kesepakatan bersama pembentukan sebuah angkatan laut yang diperkuat dengan bajak laut yang telah sepakat berjuang untuk membantu Amerika. Esek Hopkins dari Rhode Esland dipercaya untuk menjadi pemimpin tertinggi angkatan laut Amerika. Kedua adalah pembentukan panitia korespondensi rahasia yang bertujuan untuk mencari dukungan dan simpati dari negara-negara lain. Pertama kali panitia ini beranggotakan 5 orang yaitu Franklin, Jay, Dickinson, Thomas Johnson dan Benjamin Horison. Panitia ini merupakan cikal bakal lahirnya kementrian luar negeri Amerika Serikat.
Pada Januari 1776, di tanah koloni beredar sebuah selebaran yang ditulis oleh Thomas Paine, seorang revolusioner  Inggris yang bermigrasi ke Philadelpia pada tahun 1774. Dalam tulisannya Paine menegaskan sikap yang harus diambil oleh penduduk Amerika. “Inggris untuk Eropa dan Amerika untuk Amerika sendiri,  ikatan terakhir telah putus dan sudah saatnya untuk bertindak mencapai kemerdekaan kita”. Selebaran yang diberi judul common sense (akal sehat) ini telah membangkitkan rasa nasionalisme dari penduduk daerah kolonial Amerika.
Gelombang nasionalisme muncul dimana-mana, para penduduk koloni mulai mengkritik langkah-langkah kongres yang mereka nilai terlalu lambat untuk mengetahui gejolak kemerdekaan yang meluap-luap didaerah koloni (Harry williams, op.at 139).
Gelombang nasionalisme muncul dimana-mana, para penduduk koloni mulai mengkritik langkah-langkah kongres yang mereka nilai terlalu lambat untuk mengetahui gejolak kemerdekaan yang meluap-luap didaerah koloni (Richard . B. Morris op.cit halaman 95). Dorongan yang diberikan oleh rakyat membuat kongres terpacu untuk lebih berani menyatakan sikapnya untuk berpisah dari kerajaan Inggris. Sikap pemisahan yang akan diambil ternyata masih mendapatkan ganjalan di kongres, wakil-wakil dari daerah tengah terutama Pennsylvania menolak rencana pemisahan diri dan cenderung memilih diadakannya perdamaian.
Inisiatif ini diambil oleh negara-negara bagian selatan dimana kemarahan menuntut kemerdekaan berkembang dengan cepat. Sikap yang diambil  oleh Lord Dunmore, Gubernur Inggris untuk Virginia, dengan mempengaruhi para budak negro agar berjuang di pihak Inggris membuat penduduk dan pemilik perkebunan berpaling darinya dan lebih memilih jalan pemisahan dari Inggris. Pada 12 April 1776, konvensi North Carolina memberikan kuasa kepada wakil-wakilnya untuk menyetujui proklamasi kemerdekaan. Langkah North Carolina kemudian diikuti juga oleh Virginia yang memberikan dukungan kepada jalan kemerdekaan secara resmi pada 15 Mei 1776. Baru setelah 14 bulan pertempuran ini berlangsung dan harapan untuk berdamai tidak menandakan titik terang, kongres mengambil sikap tegas dengan menyatakan kemerdekaan Amerika.
Pada bulan Juni, kongres membentuk sebuah komite yang terdiri dari Jefferson, Franklin, John Adams, Robert R. Livingston dan Roger Sherman, untuk menyusun suatu pernyataan resmi tentang kemerdekaan Amerika (Charles A. Beard & Mary R. Beard, op.cit hal 106). Ketika rencana pernyataan kemerdekaan Amerika dibahas dalam kongres kembali pada 1 Juli 1776 untuk mendapatkan persetujuan secara bulat dari semua daerah koloni, wakil-wakil dari New York, Pensylvania, Deleware dan South Carolina masih mengutarakan keberatan memberikan persetujuan untuk kemerdekaan.
Pada 2 Juli 1776 perubahan besar terjadi, dimana kebulatan tekad untuk menyatakan kemerdekaan bisa tercapai. Wakil-wakil dari South Carolina memberikan persetujuan untuk merdeka yang kemudian diikuti oleh Caesar Rodney. Negara bagian Pennsylvania memilih memberikan suara abstain yang diberikan oleh wakil-wakil Pensylvania mengubah suara dalam kongres yang akhirnya menyetujui 4 Juli 1776 sebagai hari pernyataan kemerdekaan Amerika.
Surat pernyataan kemerdekaan Amerika pertama kali disusun oleh anggota-anggota komite yang lain. Setelah disahkan oleh kongres, akhirnya pada 4 Juli 1776 Amerika menyatakan dengan resmi pemisahan dari Inggris dan berdiri sendiri dengan bebas sebagai negara merdeka dengan nama Amerika Serikat (United State of America). Pembacaan naskah proklamasi dilakukan di State House di Boston yang disaksikan oleh seluruh anggota kongres dan masyarakat Boston.
About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Tag Cloud

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: